Tugu Kebulatan Proklamasi Karawang


Tugu Kebulatan Proklamasi Karawang
https://i2.wp.com/www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/fimages/TTuguKebulatanProklamasi.jpg
Peristiwa Rengasdengklok selain dapat dihayati melalui rumah persinggahan Bung Karno dan Bung Hatta juga lebih dapat dimaknai melalui monumen Tugu Kebulatan Tekad. Monumen ini dibangun di atas tanah seluas 1500 m2, yang merupakan bekas lokasi markas PETA di Kampung Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok.
Lahan monumen berbentuk segitiga. Sudut di bagian timur merupakan jalan masuk ke areal monumen. Di depan jalan masuk ini jalan raya dari arah Karawang membentuk percabangan. Salah satu ruas jalan, yaitu yang berada di sisi utara areal monumen, agak menyerong dari arah timur mengarah ke barat sedikit ke utara. Ruas jalan lainnya dari persimpangan di depan areal monumen ke arah barat daya. Kedua ruas jalan ini sekaligus sebagai batas areal monumen. Sisi belakang monumen berbatasan langsung dengan tanggul Citarum.
Lingkungan sekitar monumen merupakan pedataran rendah. Lokasi monumen berada pada koordinat 06° 09′ 430″ Lintang Selatan dan 107° 17′ 340″ Bujur Timur. Monumen dibangun  pada tahun 1950. Pada tahun 1984 dilakukan pemuggaran oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karawang. Pemugaran terakhir dilakukan pada masa pemerintahan presiden Megawati Sukarnoputri. 
Kondisi monumen berupa taman dengan bangunan tugu. Setelah memasuki pintu gerbang terdapat jalan setapak menuju bagian inti monumen. Di bagian depan sisi selatan terdapat tatanan batu yang membentuk angka 17, ditengah merupakan jalan setapak melingkar membentuk angka 8, dan di bagian utara terdapat tatanan batu membentuk angka 45.
Tepat ditengah halaman terdapat Tugu Kebulatan Tekad berdiri di atas batur persegi berukuran 15 x 15 m. Pada tiap-tiap sudut batur terdapat tugu yang diatasnya terdapat bentuk bambu runcing. Tengah-tengah bagian sisi juga terdapat semacam tugu tetapi tidak dilengkapi bentuk bambu runcing. 
Di tengah-tengah batur ini berdiri tugu Kebulatan Tekad yang bentuknya terdiri tiga bagian. Bagian bawah merupakan semacam alas berukuran 3 x 3 m disusun secara berundak-undak terdiri 5 undakan.
Di atasnya merupakan bagian badan berbentuk kotak. Pada panil yang berada di depan terdpat teks proklamasi. Di atas bagian ini terdapat bentuk bola besar yang dikelilingi empat bola kecil pada setiap sudut. Pada bola besar terdapat tulisan 17 Aug 1945. Di atas bola besar tersebut terdapat bentuk tangan (kiri) mengepal ke atas dengan telapak menghadap ke depan (arah pintu masuk). Bentuk seperti itu seakan-akan menggambarakan suatu teriakan “merdeka!”. 
Di bagian latar belakang terdapat panil melengkung terdiri tiga bagian. Bagian ujung selatan terdapat relief yang menggambarkan peristiwa Jepang menyerah kepada Sekutu. Selanjutnya panil bagian tengah dihias relief yang menggambarkan peristiwa Rengasdengklok, yaitu persiapan menjelang proklamasi kemerdekaan RI. Pada panil bagian ujung utara relief menggambarkan peristiwa tanggal 16 Agustus 1945 hingga proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945.
Peristiwa Rengasdengklok diawali oleh menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Sebelum Jepang menyerah, pada hari itu pula telah terbentuk sekitar 70 batalyon PETA di Jawa dan 50 kompi di Sumatera. Berita kekalahan Jepang terhadap Sekutu sudah terdengar di Jakarta pada 14 Agustus 1945 oleh para pemuda yang bekerja di Sendendu (Kantor Propaganda Jepang) melalui siaran radio San Fransisco.
Berita menyerahnya Jepang secara resmi pada 15 Agustus 1945 berhasil ditangkap oleh Soeroto Koento dan Soebianto Djojohadikoesoemo melalui siaran radio Sekutu. Mereka berdua kemudian menyampaikan berita tersebut ke Markas Pusat PETA di asrama Budi Kemuliaan Jakarta. Tokoh yang ketika itu ada adalah Kemal Idris, Daan Mogot, Jopie Bolang, Daan Jahja, Oetarjo, dan Islam Salim.
Para komandan peleton tersebut kemudian menghubungi Dan Yon PETA Abdoel Kadir di rumahnya sudut Jl. Surabaya dan Jl. Diponegoro, Jakarta. Para perwira PETA tadi bertekad bulat mengambil langkah menyelamatkan kedudukan Bangsa Indonesia dengan memanfaatkan kondisi vakum, karena Jepang sudah menyerah tetapi Sekutu belum datang.
Para mahasiswa dari asrama Prapatan 10, Cikini Raya 71 dan para pelajar bersepakat agar Dan Ton Daan Jahja bersama Soebianto Djojohadikoesoemo segera mendatangi Bung Hatta agar beliau bersama Bung Karno bersedia segera memproklamirkan kemerdekaan RI. Pada saat yang sama kelompok pemuda dari asrama Menteng Raya 31 antara lain terdiri Chaerul Saleh dan Soekarni telah mendatangi Bung Karno dengan maksud sama. Kedua kelompok pemuda tersebut gagal mendapatkan keinginannya. Agar lebih kuat mereka lalu bergabung.
Di Jakarta diperkirakan situasinya akan gawat karena akan ada pemberontakan terhadap Jepang. Pemuda Soekarni, Dan Ton Singgih, dan perwira kesehatan Dr. Soetjipto dari Yon I PETA Jakarta mengantar Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Di Rengasdengklok pada pagi hari itu terjadi peristiwa pelucutan dan penawanan tentara Jepang oleh pasukan PETA di bawah komando Dan Ton Umar Bachsan, Dan Ton Affan, dan Dan Ton Soeharjana. Camat Hadipranoto menurunkan bendera Jepang kemudian mengibarkan Sang Merah Putih. Peristiwa ini yang menandai bahwa pada 16 Agustus 1945 Rengasdengklok merupakan daerah pertama Negara Republik Indonesia yang sudah merdeka.
Bung Karno dan Bung Hatta diselamatkan ke daerah kompi PETA Soebeno. Di sini kedua pemimpin melakukan dialog dengan pemuda dan PETA yang akhirnya mencapai kebulatan tekad untuk memproklamasikan kemerdekaan RI. Dan Yon II PETA Jakarta bersama Dan Ki Setiadi Kartohadikoesoemo tiba dari Purwakarta melaporkan kesiapan seluruh jajaran PETA mendukung proklamasi. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta didampingi Mr. Soebardjo yang datang dari Jakarta untuk menjemputnya. Akhirnya pada 17 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Begitulah rentetan peristiwa yang menghantarkan proklamasi kemerdekaan RI. Dari Rengasdengkloklah Indonesia merdeka. Sayang rekaman peristiwa ini tidak dapat seluruhnya dapat tergambar di monumen Tugu Kebulatan Tekad Proklamasi Kemerdekaan RI. Mungkin akan lebih terasa bila di areal monumen tersebut dibangun semacam museum yang menampilkan rentetan peristiwa Rengasdengklok.

Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata

BEST ALTERNATIVE, FOR TOUR & RENTAL BUS COMPANY

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s