Tag Archives: Wisata Sejarah ke Taman Purbakala Cipari Kuningan

Wisata Sejarah ke Taman Purbakala Cipari Kuningan

TAMAN Purbakala Cipari. Mendengar namanya saja, siapapun pasti langsung memiliki bayangan kalau objek wisata di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, tersebut suatu tempat temuan benda-benda purbakala. Bayangan tersebut memang tidak salah. Tetapi tidak ada salahnya kalau sesekali kita berwisata ke lokasi temuan benda-benda purbakala.

Apalagi ke Taman Purbakala Cipari. Manakala kita berada ditengah-tengah Batu Temu Gelang, sebuah tanah lapang berbentuk lingkaran dikelilingi batu sirap yang menjadi tempat upacara berhubungan dengan arwah nenek moyang dan juga berfungsi sebagai tempat musyawarah. Kita seakan terseret jauh ke jaman ratusan ribu tahun lalu.

Di antara hembusan angin pegunungan yang datang dari gunung Ciremai di sebelah utara Taman Purbakala Cipari, Juru Pelihara (Jupel) Suma (36) memaparka semua tentang apa saja yang ada di kawasan Taman Purbakala. “Kalau hari (cuaca) sedang baik, bila sudah berada di sini (Taman Purbakala Cipari) pengunjung akan tinggal berlama-lama dan tanpa terasa hari sudah sore atau beranjak gelap,” ujar Suma, lulusan SMKI (sekarang SMKN 10 Bandung) yang sudah menjadi petugas Juru Pelihara (Jupel) BP 3 Serang untuk Taman Purbakala Cipari sejak tahun 1999 dan secara resmi diangkat tahun 2007.

Taman Purbakala Cipari berlokasi di lingkungan pemukiman warga Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. “Sebelumnya lokasi berada ditengah-tengah perkebunan, dan untuk pertamakali ditemukan oleh Wijaya pada tahun 1971 pemilik kebun,” ujar Suma mengawali cerita Taman Purbakala Cipari. Luas Taman Purbakala Prasejarah Cipari 6.364 meter persegi. Area ini sebelumnya berupa kebun tanah milik Wijaya serta milik beberapa warga lainnya. Pada tahun 1971, Wijaya menemukan batuan andesit pipih lebar yang setelah diteliti ternyata peti kubur.

Bersamaan dengan temuan tersebut, pada tahun 1972 diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak dan ditemukan, kapak batu, gelang batu, dan gerabah yang merupakan benda bekal kubur. Tiga tahun kemudian diadakan penggalian total dan setahun dibangun Situs Museum Taman Purbakala Cipari, pada 23 Februari 1978 museum diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, waktu itu, Prof. DR. Syarif Thayeb.

“Hingga kini koleksi temuan untuk kapak batu kalasedon ada empat puluh sembilan dan gelang ada sepuluh, sedangkan dari bahan perunggu kapak ada sembilan dan gelang ada satu. Sampai saat ini temuan benda-benda masih sering ditemukan warga, terutama yang lokasinya di gunung Pucuk anak gunung Ciremai,” ujar Suma. Lokasinya objek wisata yang hampir 80 dikunjungi wisatawan anak-anak sekolah ini, berada di daerah berbukit kaki gunung Ciremai atau tepatnya di 661 meter dpl. Dari Kota Kuningan berjarak sekira 4 kilometer, sedangkan dari Kota Cirebon sekira 35 kilometer.

Meskipun lokasinya dekat dengan kota Kuningan dan sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan, tapi untuk mencapainya pengunjung yang baru pertamakali berkunjung harus rajin bertanya kepada warga yang ditemui. “Memang masalah papan petunjuk yang kurang jelas banyak dikeluhkan wisatawan, ukuran papan petunjuk sama persis dengan ukuran nama jalan,” ujar Suma.

Dari lokasi tempat parkir yang dapat menampung lebih dari 30 lebih kendaraan roda empat, pengunjung sudah disambut dengan tumpukan batu andesit tersusun rapih memagari kawasan Taman Purbakala Cipari. Setelah melalui gerbang masuk kita akan mendapatkan menhir, yakni batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan.

Dibatasi jalan pengunjung, terdapat dua tanah lapang berbentuk lingkaran dengan dan lingkaran lonjong berdiameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap, di tengah-tengahnya terdapat batu. Tempat yang bernama Batu Temu Gelang ini adalah lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di seberang Batu Temu Gelang, terdapat tiga kubur batu yang di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia. “Karena tingkat keasaman dan kelembapan tanah yang terletak diketinggian 661 meter dpl terbilang tinggi, sehingga tulang yang dikubur mudah hancur,” terang Suma.

Peti kubur terbuat dari batu andesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula. Mengarah ke timur laut barat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Diarah barat kubur batu, setelah melalui punden berundak terdapat menhir dan ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu lain sehingga berbentuk meja. Diantara batu dolmen, juga batu dakon (lumpang batu), yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan. “Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji,” terang Suma.

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.

Melihat semua keunikan itu, pilihan berwisata ke Taman Purbakala Cipari ini sangat tepat. Karena apa yang didapat bukan sekedar liburan, namun juga bisa menapaki sejarah masal lalu negeri ini. Sayang, saat ini kondisinya kurang terawat. Kondisi gedung museum, sebagian ijuknya udak mulai berlubang. Demikian pula halnya dengan ruang pamer yang minim lampu penerangan.

Sementara sejumlah bebatuan sirap yang menjadi pijakan mulai terlepas dan bahkan beberapa mulai bergeser. Padahal bila dikelola dan ditunjang dengan inprastruktur yang baik, kemungkinan besar jumlah kunjungan wisatawan yang datang bukan hanya anak sekolah saja, tetapi juga turis mancanegara akan semakin banyak. Semoga. (Retno HY/”PRLM”)***

Wisata Sejarah ke Taman Purbakala Cipari Kuningan

TAMAN Purbakala Cipari. Mendengar namanya saja, siapapun pasti langsung memiliki bayangan kalau objek wisata di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, tersebut suatu tempat temuan benda-benda purbakala. Bayangan tersebut memang tidak salah. Tetapi tidak ada salahnya kalau sesekali kita berwisata ke lokasi temuan benda-benda purbakala.

Apalagi ke Taman Purbakala Cipari. Manakala kita berada ditengah-tengah Batu Temu Gelang, sebuah tanah lapang berbentuk lingkaran dikelilingi batu sirap yang menjadi tempat upacara berhubungan dengan arwah nenek moyang dan juga berfungsi sebagai tempat musyawarah. Kita seakan terseret jauh ke jaman ratusan ribu tahun lalu.

Di antara hembusan angin pegunungan yang datang dari gunung Ciremai di sebelah utara Taman Purbakala Cipari, Juru Pelihara (Jupel) Suma (36) memaparka semua tentang apa saja yang ada di kawasan Taman Purbakala. “Kalau hari (cuaca) sedang baik, bila sudah berada di sini (Taman Purbakala Cipari) pengunjung akan tinggal berlama-lama dan tanpa terasa hari sudah sore atau beranjak gelap,” ujar Suma, lulusan SMKI (sekarang SMKN 10 Bandung) yang sudah menjadi petugas Juru Pelihara (Jupel) BP 3 Serang untuk Taman Purbakala Cipari sejak tahun 1999 dan secara resmi diangkat tahun 2007.

Taman Purbakala Cipari berlokasi di lingkungan pemukiman warga Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. “Sebelumnya lokasi berada ditengah-tengah perkebunan, dan untuk pertamakali ditemukan oleh Wijaya pada tahun 1971 pemilik kebun,” ujar Suma mengawali cerita Taman Purbakala Cipari. Luas Taman Purbakala Prasejarah Cipari 6.364 meter persegi. Area ini sebelumnya berupa kebun tanah milik Wijaya serta milik beberapa warga lainnya. Pada tahun 1971, Wijaya menemukan batuan andesit pipih lebar yang setelah diteliti ternyata peti kubur.

Bersamaan dengan temuan tersebut, pada tahun 1972 diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak dan ditemukan, kapak batu, gelang batu, dan gerabah yang merupakan benda bekal kubur. Tiga tahun kemudian diadakan penggalian total dan setahun dibangun Situs Museum Taman Purbakala Cipari, pada 23 Februari 1978 museum diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, waktu itu, Prof. DR. Syarif Thayeb.

“Hingga kini koleksi temuan untuk kapak batu kalasedon ada empat puluh sembilan dan gelang ada sepuluh, sedangkan dari bahan perunggu kapak ada sembilan dan gelang ada satu. Sampai saat ini temuan benda-benda masih sering ditemukan warga, terutama yang lokasinya di gunung Pucuk anak gunung Ciremai,” ujar Suma. Lokasinya objek wisata yang hampir 80 dikunjungi wisatawan anak-anak sekolah ini, berada di daerah berbukit kaki gunung Ciremai atau tepatnya di 661 meter dpl. Dari Kota Kuningan berjarak sekira 4 kilometer, sedangkan dari Kota Cirebon sekira 35 kilometer.

Meskipun lokasinya dekat dengan kota Kuningan dan sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan, tapi untuk mencapainya pengunjung yang baru pertamakali berkunjung harus rajin bertanya kepada warga yang ditemui. “Memang masalah papan petunjuk yang kurang jelas banyak dikeluhkan wisatawan, ukuran papan petunjuk sama persis dengan ukuran nama jalan,” ujar Suma.

Dari lokasi tempat parkir yang dapat menampung lebih dari 30 lebih kendaraan roda empat, pengunjung sudah disambut dengan tumpukan batu andesit tersusun rapih memagari kawasan Taman Purbakala Cipari. Setelah melalui gerbang masuk kita akan mendapatkan menhir, yakni batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan.

Dibatasi jalan pengunjung, terdapat dua tanah lapang berbentuk lingkaran dengan dan lingkaran lonjong berdiameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap, di tengah-tengahnya terdapat batu. Tempat yang bernama Batu Temu Gelang ini adalah lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di seberang Batu Temu Gelang, terdapat tiga kubur batu yang di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia. “Karena tingkat keasaman dan kelembapan tanah yang terletak diketinggian 661 meter dpl terbilang tinggi, sehingga tulang yang dikubur mudah hancur,” terang Suma.

Peti kubur terbuat dari batu andesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula. Mengarah ke timur laut barat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Diarah barat kubur batu, setelah melalui punden berundak terdapat menhir dan ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu lain sehingga berbentuk meja. Diantara batu dolmen, juga batu dakon (lumpang batu), yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan. “Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji,” terang Suma.

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.

Melihat semua keunikan itu, pilihan berwisata ke Taman Purbakala Cipari ini sangat tepat. Karena apa yang didapat bukan sekedar liburan, namun juga bisa menapaki sejarah masal lalu negeri ini. Sayang, saat ini kondisinya kurang terawat. Kondisi gedung museum, sebagian ijuknya udak mulai berlubang. Demikian pula halnya dengan ruang pamer yang minim lampu penerangan.

Sementara sejumlah bebatuan sirap yang menjadi pijakan mulai terlepas dan bahkan beberapa mulai bergeser. Padahal bila dikelola dan ditunjang dengan inprastruktur yang baik, kemungkinan besar jumlah kunjungan wisatawan yang datang bukan hanya anak sekolah saja, tetapi juga turis mancanegara akan semakin banyak. Semoga. (Retno HY/”PRLM”)***